![]() |
Di sini, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada laut. Mereka berlayar di tengah derasnya ombak dan kencangnya angin. Dengan segala keterbatasan transportasi, kondisi cuaca, serta jarak antarpulau yang tidak mudah ditempuh, semangat masyarakat Selayar untuk terus bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya tidak pernah surut.
Semuanya sering kali hanya diawali dengan satu kata…
Bismillah.
Layar pun dikembangkan. Mesin dinyalakan. Perahu perlahan meninggalkan pantai, menerjang luasnya laut demi mencari nafkah, mengantar keluarga, menempuh pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepulauan Selayar memang jauh dari hiruk-pikuk dunia. Di saat cuaca ekstrem melanda, masyarakat di pulau-pulau kecil terkadang harus terisolasi dari kehidupan luar. Mereka bertahan dengan apa yang tersedia di wilayahnya.
Akses terhadap transportasi, pelayanan kesehatan, dan pendidikan yang lebih baik masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat kepulauan. Jarak dan kondisi geografis membuat banyak hal yang seharusnya mudah dijangkau, menjadi perjuangan yang tidak sederhana.
Peristiwa kecelakaan laut Kapal Nurul Salsa semoga menjadi momentum untuk mengetuk hati kita semua. Bahwa di balik luasnya laut yang memisahkan pulau-pulau, ada masyarakat yang terus berjuang, ada keluarga yang menunggu, ada anak-anak yang ingin mengenyam pendidikan, dan ada warga yang membutuhkan akses kesehatan.
Masyarakat Kepulauan Selayar tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap memiliki transportasi yang lebih aman, akses kesehatan yang lebih mudah, serta pendidikan yang lebih baik. Karena bagi masyarakat kepulauan, setiap perjalanan melintasi laut bukan sekadar perjalanan.
Di dalamnya ada harapan.
Dan setiap kali layar dikembangkan, selalu ada doa yang menyertai…
Bismillah… semoga selamat sampai tujuan.
Penulis : dr. Marlin
(dokter puskesmas bontoharu, Kabupaten Kepulauan selayar)





